SENIN, 30 AGUSTUS 2010 | 02:07 WITA | 17028 Hits
Share |

Foto dan Interaksionis Simbolik
Oleh: Hasrullah
Buku Terbaru Encyclopedia of Communication Theory terbitan 2009 yang ditulis Stephen W Littlejohn dan Karen A Foos, memuat teori-teori komunikasi klasik hingga teori modern.

Di antaranya teori baru adalah stakeholder communication theory, menggambarkan bagaimana memahami hubungan antar-organisasi sehingga dapat menimbulkan akuntabilitas dari perspektif komunikasi.

Teori baru lainnya adalah konvergensi media; Media Equation Theory, teori ini memperlakukan media seperti manusia dan berinteraksi dengan media seolah-olah mereka hadir dengan nyata.

Kemudian, soal pembahasan foto dari teori-teori komunikasi perlu diperbincangkan karena social symptom menunjukkan bahwa kita berada dalam kepungan simbol yang ikut mempengaruhi mind set, perilaku, dan sikap dalam human communication.

Gejala semacam ini sejalan pemikiran Herbert Mead bahwa manusia dalam berinteraksi berdasarkan simbol-simbol. Karena, simbol itu mempunyai makna yang dapat diinterpretasikan berdasarkan konteks sosial dan budaya.

Khususnya lagi, foto salah satu bentuk interaksi simbolik dapat dibeda secara detail dari perspektif semiotika. Seperti digambarkan Charles Sanders Peirce (lihat Littlejohn dan Foos, hal 874-875, 2009) yang meneliti mengenai tanda (sign) dan sistem tanda (sign system) dan menemukan 66 tipe tanda, tiga tipe di antaranya yang berlaku universal dan penting untuk dipahami dan diketahui dalam interaksionis simbolik.

Pertama, Icon, sesuatu yang berhubungan dengan kesamaan antara penanda dengan petanda. Misalnya; foto dan patung terhadap person atau objek. Kedua, Index, hubungan penanda dengan petanda yang "memandu" kita kepada objek.

Misalnya, wedding cake menunjukkan seleberasi perkawinan. Terakhir, symbol, suatu hubungan objek yang konseptual dan abstrak bahkan metafisik antara tanda dengan penanda. Contohnya; Api bisa bermakna kehidupan dan malapetaka.

Kembali kepada pemaknaan foto dalam kajian tanda dan sistem tanda terhadap maraknya foto (termasuk baliho) yang terpajang di sudut kota. Foto yang mengidolakan seseorang tentu sangat menarik dianalisis dengan memakai pemikiran Charles S Pierce bahwa gambar dalam bentuk foto diartikan sebagai ikon.

Ikon dalam bentuk foto secara historis mengandung makna jiwa heroisme atau tokoh seorang ilmuan terkenal. Sebagai contoh, foto Bung Karno, dimaknai sebagai the founding father maupun sebagai negarawan. Sultan Hasanuddin merupakan ikon Ayam Jantang dari Timur. Idola mahasiswa di bajunya terpampang foto Che Guevara sebagai ikon perlawanan terhadap penindasan.

Bagaimana dengan foto (baliho) yang bertujuan sebagai ajang promosi atau pencitraan suatu program? Tentu maknanya akan menimbulkan interpretasi beragam. Sepanjang foto itu bermakna denotatif (arti yang sebenarnya) maka pesan itu dapat menjadi alat komunikasi publik dalam upaya sosialisasi dan personal branding.

Sebaliknya, jika setiap program yang ber-ikon foto itu saja, sehingga pesan antara penanda dengan petanda dikonstruksikan makna konotatif, di antaranya; (1) foto tersebut sosok feodalisme namun berbaju demokrasi, (2) foto terkesan sebagai aktor "model", (3) komunikasi publik yang tak percaya diri, (4) foto bermakna arogansi, (5) tokoh yang ditampilkan mencerminkan pola komunikasi linear, (6) terjadi ketakutan struktural dalam organisasi atau birokrasi, (7) pengelabuan image di depan publik, (8) menutupi kekurangan dengan memunculkan "kesadaran palsu", (9) persepsi orang Makassar; gayana ji!

Munculnya makna semiotika dalam wujud ikon multitafsir di ranah sosial, hal tersebut menunjukkan bahwa "black box" masyarakat tak seperti yang dipikirkan oleh petanda, tapi terkadang berbanding terbalik yang dipersepsikan petanda.

Konsekuensi suatu pesan yang diluncurkan ke publik kembali dikontruksikan secara kritis bahwa foto tersebut dibaca melalui metakomunikasi dengan teks berlawanan arah. Sehingga, teks yang tekandung dalam foto (baliho) terpaksa terpatahkan dengan logika publik sebagai "pencitraan semu". Ikonik dalam bentuk "pengaburan makna" dalam aliran kritis dengan mengatakan foto dalam tataran ikonik wujud teks yang cita rasa intelektualnya paling rendah.

Sebaliknya, foto semiotik yang cerdas tentu memperhatikan logika publik dan lebih mengedepan komunikasi dua arah dan timbal balik, sehingga makna semiotika tak hanya berada di tataran ikonik, tapi dirancang di tataran simbol. Karena simbol acuan konsepsional berdasarkan logika publik akan jauh lebih cerdas dalam mendeteksi interaksinisme simbolik yang sesungguhnya. (**)

KOMENTAR BERITA "Foto dan Interaksionis Simbolik"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).